Peraturan Sekolah : Ketertiban, Pelanggaran, dan Hukuman.

Kedisiplinan Siswa di Sekolah

Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah. Yang dimaksud dengan aturan sekolah (school rule) tersebut, seperti aturan tentang standar berpakaian (standards of clothing), ketepatan waktu, perilaku sosial dan etika belajar/kerja. Namun pada kesehariannya, pengertian disiplin kemudian menjadi suatu usaha untuk menertibkan siswa.  Meski sering kita temui demi menegakkan kedisiplinan, banyak orang yang memberikan hukuman secara fisik dan psikiologis.

Berkenaan dengan tujuan disiplin sekolah, Maman Rachman (1999) mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah : (1) memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswa melakukan yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya. Namun untuk menegakkan kedisiplinan inilah yang kemudian menjadi salah. Benar adanya apabila dibutuhkan tindakan tegas bagi murid, agar murid terbiasa hidup disiplin, namun cara untuk menegakkannya yang seringkali dianggap “Over” malah hal inilah yang kemudian mengakibatkan, banyaknya murid yang tidak perduli dengan kedisiplinannya.

Wendy Schwartz (2001) menyebutkan bahwa “the goals of discipline, once the need for it is determined, should be to help students accept personal responsibility for their actions, understand why a behavior change is necessary, and commit themselves to change”. Disiplin ini menjadi hal yang bertujuan untuk menjaga ketertiban sekolah, namun banyak pula murid yang menganggap peraturan yang ada untuk menertibkan ini, menjadi peraturan yang dibuat untuk ditentang. Sebenarnya hal itu merupakan hal yang cukup wajar, mengingat di masa remaja ini, seseorang sedang dalam masa dimana dirinya merasa benar dan tidak mau diatur. Namun keadaan yang seperti itu tidak ditandangi berbagai pihak dengfan cara yang halus, malahan mereka menanggapinya dengan keras, nah hal itulah yang kemudian menyebabkan terlontarnya pikiran bahwa “Peraturan ada untuk ditentang”.

Keith Devis mengatakan, “Discipline is management action to enforce organization standarts” dan oleh karena itu perlu dikembangkan disiplin preventif dan korektif. Disiplin preventif, yakni upaya menggerakkan siswa mengikuti dan mematuhi peraturan yang berlaku. Dengan hal itu pula, siswa berdisiplin dan dapat memelihara dirinya terhadap peraturan yang ada. Disiplin korektif, yakni upaya mengarahkan siswa untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang ada. Dengan catatan bahwa, mereka juga memahami berbagai aspek yang sedang tumbuh pada diri seorang murid.

Oleh sebab itu siswa sangat membutuhkan peraturan yang mampu untuk mengatur tiap apa yang sedang berkembang dalam diri remaja, namun peraturan itu juga haruslah fleksibel. Fleksibel disini dalam artian dapat menyesuaikan dengan keadaan-keadaan yang ada di sekitar peraturan yang sedang berlaku itu sendiri.

sumber:

http://www.smeru.or.id/

http://smpn1-prambanan.sch.id/

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/

http://www.galenium.com/

Belajar efektif mengejar prestasi

Belajar Efektif Mengejar prestasi Belajar, mungkin ini sebuah kata yang tidak asing bagi setiap pelajar seperti kita. Dimanapun dan kapanpun, kewajiban utama seorang pelajar adalah belajar. Meski pada penerapannya dilapangan, kata “Kewajiban” tidak lagi menjadi suatu hal yang sifatnya memaksa, namun hanya menjadi sebuah masukan. Namun bagaimanapun juga belajar tidak dapat lepas dari setiap orang. Belajar merupakan suatu kewajiban bukan hanya bagi pelajar, namun juga bagi setiap orang yang hidup. Karena apa? Karena setiap manusia hidup, tumbuh dan berkembang untuk menjadi lebih baik dari masa ke masa. Hal ini pula yang kemudian akan diangkat dalam ulasan singkat berikut. Setiap orang memiliki suatu cara tertentu yang dapat membuatnya nyaman. Begitu pula dengan gaya belajar. Mereka memiliki masing2 cara yang memudahkan mereka untuk memahami sesuatu, dan setiap orang tidak dapat disamaratakan untuk belajar sesuatu menggunakan cara yang sama, karena ini tidak akan menjadi efektif. Banyak orang yang dapat memahami sesuatu dengan cara mendengar, atau mungkin banyak pula orang yang mudah untuk memahami sesuatu dengan melihat, dll. Lalu bagaimana belajar yang efektif itu sendiri? Belajar yang efektif, menurut saya pribadi yaitu dengan berbagai cara yang intinya mampu menambah pengetahuan kita agar tidak hanya berpaku dengan hal2 itu saja, sehingga pandangan kita menjadi luas tidak terbatas. Belajar akan menjadi efektif apabila seseorang melakukannya dengan sepenuh hati, karena apa? Karena disitulah keefektifannya akan Nampak, terlihat bagaimana orang yang belajar di sekolah hanya untuk formalitas dengan orang yang benar-benar dating ke sekolah untuk menuntut ilmu. Semua itu akan lebih nyata terlihat kelak di masa datang. Orang yang benar-benar belajar dengan efektif akan memiliki wawasan yang luas, dengan begitu ia menjadi manusia yang memiliki kualitas baik, dan ….dunia yang semakin maju ini membutuhkan tenaga-tenaga yang memiliki kualitas bagus. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak belajar dengan sungguh2? Brarti orang ini menyia-nyiakan waktu sekolahnya, dan itu brarti pula ia tidak efektif menggunakan waktu untuk blajar. Orang-orang ini nantinya yang akan berkata “Sukses ditentukan dengan TAKDIR” kalimat orang-orang putus asa yang tidak memiliki daya untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya. Tidak perlu menilik jauh-jauh ke masa depan, untuk di bangku pendidikan sendiri. Akan sangat terlihat bagaimana orang yang menggunakan waktu blajarnya secara efektif maupun tidak. Siswa yang blajar dengan efektif akan mengoptimalkan waktu yang dia miliki untuk lebih banyak blajar, berbeda dengan orang yang menomor sekian kan blajar dan menggantinya dengan berbagai kegiatan yang menyimpang dari kewajibannya sebagai seorang pelajar. Dan tidak dapat dipungkiri pula siswa yang belajar dengan efektif akan memiliki prestasi akademik yang membanggakan. Ya, mungkin banyak pula siswa yang berprestasi di luar akademik, namun aoakah itu bukan suatu penyimpangan bagi seorang pelajar? Tujuan utama pelajar adalah belajar, belajar formal di sekolah, namun kenapa yang ia peroleh adalah wawasan dan prestasi di luar akademik yang ia pelajari di sekolah? Ini merupakan suatu kejanggalan yang di amini berbagai pihak. Untuk itu sebagai seorang pelajar yang hidup di lingkungan terpelajar, bukankah sebaiknya kita mampu belajar untuk mengejar prestasi kita di bidang pendidikan, tanpa kemudian meninggalkan prestasi non akademik kita. Namun dapat membagi antara akademik dan non akademiknya dengan baik, sehingga menjadi manusia-manusia yang memiliki kualitas yang tinggi, sehingga diperhitungkan berbagai pihak.

http://belajarpintar.com/

http://pieterssoeratno.wordpress.com/

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/

terkini

Study tour, langkah peNuh kepastian

Dewasa ini pedidikan menjadi sorotan utama di Negara Indonesia. Pemicunya adalah tingkat pendidikan Indonesia yang semakin melorot. Bahkan di mata Dunia, Indonesia semakin terpuruk di bidang pendidikan. Di dalam Negeri sendiri buktinya, mulai adanya kekhawatiran pada tingkat kelulusan para pelajar. Grafik para pelajar putus sekolah pun semakin naik, bahkan tingkat buta huruf Indonesia pun cukup membuat Bangsa ini menggelengkan kepala.
Kemudian sebagai upaya untuk membangun sistem Negara yang baik, maka pemerintah mulai menyoroti pendidikan sebagai sorotan utama. Dalam perkembangannya, pendidikan mulai mengalami perbaikan di segala aspek. Usaha itu dibuktikan dengan adanya berbagai tindakan nyata seperti, perubahan kurikulum, adanya program sekolah gratis, adanya kejar paket, juga variasi sistem pembelajaran, dll.
Upaya yang cukup populer yaitu adanya variasi dalam sistem pembelajaran. Salah satunya yaitu study tour. Study tour merupakan suatu variasi pembelajaran yang di dalamnya terdapat variasi pembelajaran yang dipadukan dengan adanya wisata. Program ini cukup mengundang minat para pelajar, bahkan tidak jarang banyak pelajar menantikan momen study tour. Bahkan seiring perkembangan zaman, study tour ini mulai dilaksanakan oleh segala tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga SMK.

Victor Immanuel Tanja Pendeta dan sang Penulis
Victor Immanuel Tanja (31 Mei 1936 – 1 Juli 1998) merupakan seorang penulis dan Pendeta berkebangsaan Indonesia. Dia lahir di pulau Sewu, NTT dan meninggal di Jakarta.
Pendeta Immanuel Tanja, MTh, PhD, mengecap pendidikan dasar di pualu kelahirannya. Sekolah lanjutan pertama ia peroleh di Kupang dan Sekolah Lanjutan Atas di Jakarta. Setelah lulus SLTA, ia sempat bekerja selama beberapa tahun di perusahaan minyak Stanvac.
Kmeudian tahun 1959 melanjutkan Sekolah Tinggi THeologia Jakarta dan meraih gelar Sara\jana Theologia pada tahun 1965. Setelah itu, ia ditahbiskan menjadi Pendeta yang melayani Jemaat Gereja Protestan bagian Barat ( GPIB) di Bogor, Jawa Barat.
Pusat data Ensikonesia (Ensiklopedia Tokoh Indonesia) menctat, tahun 1967, ia bertugas sebagai dosen mata kuliah Agama Kristen di Perguran tinggi Ilmu Kepolisian dan Staf Komando Angkatan Kepolisian Republik Indonesia. Setelah beberapa tahun melayani sebagai pendeta dan dosen, Victor meninggal;kan tanah air untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana di amerka seriakt. Ia memperoleh gelar master of sacred Theology ( STM) dari Cristian Theological Seminary di Indianapolis, Indiana, USA, 1972.
Kemudian sejak September 1973 melanjut ke program S3 pada Hartford Seminary Foundation, Hartford, Connecticut, AS dan berhasil meraih gelar Doctor of Phylosophy (Ph.D), 1979. kemudian, ia kembali ke tanah air. Pernah menjabat Dekan Fakultas Kristen stya Wcana Salatiga. Juga menjabat Direktur PPPT GPIB, 1982-1986 dan dosen STT Jakarta.
Ia seorang penulis kreatif. Karya tulisannya antara lain ; Pluralisme Agama dan Problema Sosial, Spritualitas, PLuralitas dan pembangunan di Indonesia , Tiada Hidup Tanpa Agama, dan Hmpunan Mahasiswa Islam.

remaja masa kini

Pergaulan Remaja Rentan dengan sisi negatif??

Masa remaja merupakan suatu masa yang umumnya manusia gambarkan sebagai masa, dimana mereka dapatkan kebebasan. Masa dimana setiap individunya memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas semau mereka. Menjadi manusia yang kemudian diartikan sebagai pembangkang.
Hal ini jelas memberi dampak uang cukup buruk bagi remaja. Alasannya sangatlah mendasar. Bagaimana manusia itu akan berkembang apabila kebebasannya dibatasi. Apabila kebebasan itu dibatasi, apakah itu masih dapat disebut kebebasan?? Di lain pihak, sikap remaja yang bebas itu kemudian disangkutkan dengan kenakalan remaja. Pendapat itu jelas menghilangkan kretivitas remaja yang katanya adalah penerus bangsa. Bagaimana Bangsa ini akan maju, apabila penerus2 nya tidak memiliki kreativitas akibat aturan-aturan yang mengekang mereka??
Penentangan2 ini yang kemudian malah akan menimbulkan perlawanan dari remaja. Jelas perlawanan ini beralasan, kebebsan mereka jelas diambil. Efeknya, ya banyak anak-anak yang kemudian mengespreksikannya dengan hal-hal anarki, yang malah akan semakin memperburuk keadaan.
Menurut sumber-sumber yang saya dapatkan dalam beberapa waktu ekat, hampir 90% remaja menganggap bahwa aturan-aturan hanyalah sarana yang patut untuk ditentang. Menurut mereka peraturan sangat tidak efektif.
Begitu pula dengan peraturan yang berlaku disini. Contoh nyatanya saja tampak, apakah tepat apabila seorang siswa yang bukunya tertinggal harus mendapat pelanggaran, sedangkan siswa yang tidak membawa buku dapat dengan tenangnya mengikuti pelajaran tanpa pelanggaran? Jelas-jelas ini suatu peraturan yang tidak msuk akal. Ini bukti peraturan sebagai suatu yang tidak efektif.
Saya rasa apa yang aka terjadi dalam seseorang sangat dipengaruhi oleh individu itu sendiri. Seketat apapun peraturan, apbila individu memiliki sfat yang keras dalam melawan peraturan, peraturan itu tidak akan banyak membantu membentuk dia.
Untuk itu dalam menghadapi remaja apakah tidak sebainya kita memberikan kebebasan bersyarat bagi mereka, untuk mengespresikan jiwa mudanya. Agar mereka tidak merasa tertekan, tidak merasa diatur, namun tetap dalam koridornya sebagai remaja yang diharapakan menjadi penerus bangsa ini.
Untuk itu lebih baik agar mereka yang merasa memiliki tanggung jawab untuk membentuk para remaja agar lebih mengerti apa yang mereka kehendaki, tanpa mengurangi rasa kepercayaan mereka untuk remaja.

Waw Liverpool..

Liverpool terbenam

Sepak bola merupakan olah raga yang digemari di jagat raya ini. Berbagai kompetisi diadakan di thampir tiap Negara di dunia. Mulai kompetisi dalam negeri hingga kompetisis antar negara. Tujuannya hanya satu, membuktikan siapa yang lebih tangguh di Dunia itu.
Tidak terkecuali di Inggris. Di sinilah terdapat banyak klub-klub tangguh yang ditaku di seluuh Dunia. Salah satunya ialah Liverpool. Klub yang bermarkas di Anfield arena ini jelas merupakan klub yang cukup populer di Dunia. Di dlam Negeri, mereka menjadi pemegang juara liga terbanyak. Di liga Eropa? Mereka juga masuk dalam beberapa klub yang mampu menjuarainya dalam jumlah banyak.
Pemain-pemain handal melejit dari sana. Mulai dari Michael Owen, hingga Fernando Torres. Tapi, bagaimana prestasi mereka tahun ini?? Cukup mengenaskan untuk klub sebesar Liverpool. Di Liga inggris mereka terseok-seok di papan tengah. Sedang di Liga Champions? Mereka gugur di penyisihan grup.
Apakah yang salah dari mereka?? Mereka punya Gerrard sebagai pemimpin, torres sebagai goalgetter. Namun nampaknya mereka tidak memiliki rasa kebersamaan untuk menjuarai tiap apa yang mereka hadapi.
Buktinya jelas nampak setelah absennya beberapa pilar, mereka tidak mampu menambal pos-pos yang ditinggalkan. Antara peamin inti dan cadangan cukup compang-camping.
Januari besok adalah jalannya….. Eduardo da silva, Rafael Van de Vart harus segera ditarik ke Liverpool untuk melapis kekurangan yang ada. Jika tidak, apa yang akjan terjadi dengan the pool. Akankah mereka hanya puas di papan tengah, atau mungkin saja mereka terdegradasi..Percayakah anda?

Jonathan Pattinasia sosok penuh inspirasi
Hidup di jalanan adalah keseharian Jonathan Pattinasia remaja. Ia sangat akrab dengan minuman keras, perkelahian, dan berbagai bentuk kenakalan lain. Meski begitu ia masih ingat pergi ke Gereja walau hanya sesekali. Pada umur 16 ia mengalamai perubahan drastic. Tuhan menyapanya lewat khotbah seorang Pendeta dalam acara camp. Saat itu, ia yang se-vokal grup dengan Andre Hehanusa membawakan beberapa lagu.
Dalam khotbahnya, sang Pendeta mengatakan, “Bukan berarti kalau kita menyanyi lalu masuk Surga. Bukan karena kita nyanyi lalu Tuhan senang. Nyanyian kita bisa menjadi bau busuk di hadapan Tuhan.”. kata tersebut sangat menusuk dan menyentak kesadaran Jonathan. Ia lalu menyatakan janji setianya kepada Tuhan dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.
Dari sini ia merasa perlu bersaksi kepada banyak orang. Ia lalu mulai gemar berkotbah kepada siapa saja bahkan pernah berkotbah di pasar-pasar. Tentu saja sebagai seseorang yang baru bertobat ia belum punya banyak perbendaharaan ayat Kitab Suci. Ia hanya bermodalkan Yohanes 3 : 16. dari sini teman-teman mulai suka.
Tiga tahun kemudian suami dari Ina Pattinasia ini masuk STT Tawangmangu. Di sana ia mulai mendapat dasar tentang khotbah yang sebenarnya. Secara akademik ia belajar homiletika dan retorika.
Seorang pengkotbah, jelas pria yang gemar memakai pakaian hitam-hitam ini, harus menentukan focus khotbahnya dan setia dengan focus itu. Jisk tidak, dia akan melebar kemana-mana. Ibarat orang yang masuk ke sebuah gua, dia tahu jalan masuknya tetapi tidak tahu jalan keluarnya. Dalam pengamatan Bang Jo, demikian sapaan akrabnya, keterbatasan pengalaman dan pengetahuan sangat bisa menjadi penghalang utama bagi seseoranag dalam menyiapkan khotbah. “ Kesulitnanya , kalau hanya merupakan pengetahuan kepala dan bukan pengalaman sendiri, khotbahnya tamoak mentah dan tanpa gairah.” Jelas bang Jo lagi.
Normalnya sebuah khotbah hanya berdurasi 30 menit. Lebih dari itu orang sulit untuk menangkapnya. Menyinggung soal frekwensi khotbahnya, Jonathan menjelaskan , ia membatasi diri dalam menerima permintaan berkotbah. Hanya 3x dalam hari Minggu meski cukup banyak permintaan. Samapai hari ini ia merasa kemampuannya berkotbah adalah anugrah Tuhan yang perlu ia kembangkan.